Air Panas Candi Gedong Songo

Air Panas Candi Gedong Songo

Hening, damai, dan misterius adalah tiga kata yang menggambarkan Candi Gedong Songo secara keseluruhan. Terletak di Lereng Gunung Ungaran, Candi Hindu yang dibangun sejaman dengan candi di Dieng ini menawarkan eksotisme tersendiri.

CANDI GEDONG SONGO
Eksotisme Saujana Budaya di Lereng Gunung Ungaran

Hibungan bilateral antara Kerajaan Mataram Kuno dan kerajaan di India tidak hanya berlangsung dalam bidang perniagaan, melainkan berlanjut ke ranah budaya dan kepercayaan. Pengaruh budaya India tersebut bisa disaksikan pada bangunan candi yang tersebar di nusantara. Salah satu kompleks percandian yang mengusung langgam India dan sudah terpengaruh budaya lokal adalah kompleks Candi Gedong Songgo yang terletak pada ketinggian 1200 m dpl, tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Tak ada data pasti yang menyebutkan kapan candi ini dibangun. Namun dilihat dari peninggalan artefak di sekitar candi serta kemiripan fisik dengan candi di Dataran Tinggi Dieng, para ahli menyimpulkan bahwa Candi Gedong Songo dibangun pada kurun waktu yang sama, yaitu sekitar abad VII – IX pada masa pemerintahan Dinasti Sanjaya.

Perjalanan menuju Kompleks Candi Gedong Songo merupakan tantangan tersendiri karena harus melewati tanjakan curam dan tikungan tajam. Namun perjuangan Kita menembus medan yang berat sebanding dengan keindahan yang didapatkan. Dari pintu gerbang sudah terlihat kompleks candi yang berdiri dengan anggun dan megah di lereng gunung, berderet-deret dari bawah hingga atas. Aroma tanah basah, rumput yang habis dipotong, getah pinus, semerbak wangi bunga liar, dan udara sejuk pegunungan memberikan sensasi tersendiri. Cahaya matahari yang menerobos turun melewati celah pucuk-pucuk pinus dan menyinari bangunan candi menjadi lukisan pagi yang sempurna.

Sebelum dinamakan Gedong Sembilan, kompleks percandian ini bernama Gedong Pitoe, karena saat pertama kali ditemukan hanya ada tujuh kelompok bangunan. Setelah ada penemuan dua kompleks baru, candi pun dinamai Candi Gedong Songo yang berarti sembilan kompleks bangunan. Namun saat ini yang bisa dilihat oleh wisatawan hanyalah lima kompleks, sebab empat kompleks lainnya tinggal puing-puing dan sudah diamankan oleh Dinas Purbakala. Untuk menikmati keseluruhan bangunan candi ada dua cara yang bisa ditempuh, yang pertama adalah berjalan kaki sepanjang 4 km menyusuri jalan berbatu mulai dari Candi Gedong I hingga Candi Gedong V, atau menunggang kuda dengan rute sebaliknya. Kita pun memilih untuk menunggang kuda dan memulai petualangan dari Candi Gedong V yang terletak di puncak tertinggi dengan sebutan Puncak Nirwana.

Awalnya Kita sempat gamang ketika harus berkuda membelah hutan dengan jalan yang terjal dan berkelok. Tapi kegamangan itu segera sirna saat kuda mulai melangkah menyusuri jalan. Ketipak tapal kuda yang beradu dengan bebatuan menjadi melodi pengiring perjalanan, berpadu dengan ringkikan maupun kicau burung yang samar terdengar. Jalanan kemudian menukik turun, sehingga Kita harus menegakkan badan dengan kaki menempel erat di badan kuda. Dari ketinggian Candi Gedong V, Kita melayangkan pandangan ke seluruh penjuru dan terlihat gugusan pegunungan Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Telomoyo. Saat menuju ke Candi Gedong IV, mendadak matahari tertutup awan dan kabut mulai merayap turun. Bau belerang yang berasal dari sumber air panas yang terletak di antara Candi Gedong IV dan Gedong III pun mulai tercium. Sejenak YogYES merasa terlempar ke sebuah negeri antah berantah di mana semuanya serba misterius dan sunyi, namun memberikan kedamaian yang abadi.

Harga Tiket:

Tiket masuk obyek wisata: Rp 5.000
Tarif berkuda paket Candi Gedong Songo:
Wisatawan domestik Rp 50.000
Wisatawan mancanegara Rp. 70.000
Tarif berkuda paket wisata desa:
Wisatawan domestik Rp 25.000
Wisatawan mancanegara Rp. 35.000
Tarif berkuda ke sumber air panas:
Wisatawan domestik Rp 40.000
Wisatawan mancanegara Rp. 60.000

“..CANDI UMBUL..” Pemandian Air Hangat dengan Cita Rasa Sejarah

“..CANDI UMBUL..” Pemandian Air Hangat dengan Cita Rasa Sejarah

“…Menyusuri Kota Magelang Provinsi Jawa Tengah, anda akan disuguhkan suasana yang nyaman dan sejuk dengan pemandangan indah dikelilingi pegunungan yang melingkar bak gelang beruntai mengitari wilayah ini. Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah ini memiliki lanskap budaya yang adiluhung peninggalan dua dinasti besar dalam sejarah Indonesia. Diantaranya adalah Wangsa Syailendra, dinasti yang membangun Candi Borobudur, salah satu Keajaiban Dunia. Sebenarnya masih banyak peninggalan Wangsa Syailendra yang tersebar di sekitar wilayah Kabupaten Magelang, salah satunya adalah situs Kolam Pemandian Candi Umbul yang terletak di Desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Magelang. Kolam pemandian Candi Umbul terkesan kuno… Kolam berasal dari batuan andesit, di dalam air kolam terdapat sejumlah umpak yang dapat digunakan untuk duduk-duduk, diperkirakan merupakan sisa pondasi tiang yang pada zaman dahulunya berfungsi sebagai penyangga atap.

“…Corak Ukiran Dinasty Syailendra di Tangga Kolam Permandian Candi Umbul…”

Sejumlah batuan situs berjejer di tepian kolam menggambarkan relief tumbuhan dan binatang, batu berbentuk mirip gong, arca gajah dan arca manusia yang terpotong badan atasnya merupakan bagian dari puncak candi. Secara keseluruhan Candi Umbul masih menampakkan nuansa peninggalan sejarahnya dari Dinasti Syailendra, Kerajaan Mataram Kuno. Terdapat dua kolam pemandian yang masing-masing berukuran 50 meter persegi dan 15 meter persegi. Kolam tersebut kini difungsikan sebagai tempat wisata renang, kolam pertama memiliki air hangat yang mengandung belerang, sementara kolam kedua lebih dingin dan sedikit lebih rendah dari kolam pertama, air kolam di limpahkan ke dalam saluran air dan mengalir menuju kolam penyerapan untuk diserap kembali ke dalam tanah. Gelembung-gelembung udara menyembul dari dasar kolam yang menyebabkan situs ini disebut Candi Umbul, umbul dalam bahasa Jawa berarti keluar atau menyembul. Airnya hangat dan dipercaya menyembuhkan sejumlah penyakit seperti kulit, reumatik, dan stroke.

“…Lanskap yang Indah dari Kolam Pemandian beserta Reruntuhan dan Stupa Candi Umbul…”

Air Hangat Candi Umbul juga dipercaya bisa membuat seseorang tambah cantik bila berendam di tempat tersebut karena airnya mengandung zat Saprophyl. Pemandian ini konon dahulunya sebagai tempat mandi para putri raja setelah mereka menjalani prosesi ritual di Candi Borobudur. Hingga kini pun, masyarakat Magelang dan kota sekitarnya sering memanfaatkan Candi Umbul untuk melakukan prosesi ritual. Seperti tradisi mandi Padusan untuk membersihkan diri menjelang bulan Ramadhan dan Tradisi Melasti umat Hindu Magelang dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Tak banyak yang diketahui orang mengenai sejarah Candi Umbul, pemandian ini baru dibuka sekitar tahun 1870-an. Itu pun setelah Belanda memerintahkan untuk menggali peninggalan sejarah tersebut. Kabarnya kolam itu berada di bagian belakang kompleks percandian yang terletak di tepian aliran Kali Elo. Letusan Gunung Merapi Tahun 1906 telah mengakibatkan candi itu rusak dan terpendam oleh material vulkanik yang mengalir melalui kali itu.

“…Kompleks Candi Umbul Magelang Peninggalan Sejarah Dinasti Syailendra…”

Pondasi candi tak jauh dari kolam itu hingga kini masih terpendam di dalam tanah. Tempat pemandian yang dibuat pada masa Dinasti Syailendra ini sebenarnya ingin dibuat seperti Pemandian Taman Sari yang berada di Keraton Yogyakarta. Tapi karena terjadi perselisihan, tempat tersebut tidak tuntas penyelesaiannya. Untuk mencapai tempat pemandian air hangat ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Dari Semarang, waktu tempuhnya sekitar 60 menit. Anda bisa naik kendaraan umum atau kendaraan pribadi. Kalau Anda memilih naik kendaraan umum, cobalah naik bus Semarang yang mengarah ke Yogyakarta, Wonosobo, atau Magelang. Turun di daerah Pringsurat. Ada papan besar di sebelah kiri jalan yang menunjukkan tempat pemandian berada. Untuk mencapai pemandian tersebut, Anda harus berjalan masuk sejauh 600 meter. Jika dari Magelang, bisa ditempuh dengan bus mini jurusan Grabag dari terminal Tidar, nanti akan ada papan jalan yang menunjukkan lokasi pemandian, namun jaraknya lebih jauh, sekitar 2 kilo. Akan tetapi, Biaya masuk pemandian ini terbilang murah. Dengan Rp 4000 saja, Anda sudah bisa berendam sepuasnya di pemandian air hangat ini.

Oleh : Ryan R.A Jogjakarta, tempat ke-6, mmmmm ora eneng rasane, uget-uget ae urip……. kurang anget. sekedar tahu saja @#%@#$^%%*(&?>/
Sejarah Dinasti Syailendra

pemandian banyu anget pacitan

pemandian banyu anget pacitan

Menikmati Hot Spring Zonder Bau Belerang, Anda sudah pernah mengunjungi sumber air panas atau yang juga populer dengan sebutan hot spring? Nah, Anda tentu tidak asing dengan bau menyengat belerangnya yang khas. Sumber air panas memang identik dengan bau ini. Namun berbeda dengan Sumber Air Panas Tirto Husodo di Pacitan. Sama sekali tidak tercium bau belerang yang bisa mengganggu kenyamanan berendam menikmati airnya yang hangat.

Sumber air panas yang lebih dikenal dengan nama Pemandian Banyu Anget oleh masyarakat sekitar ini terletak sekitar 15 km sebelah utara pusat kota dan relatif mudah dijangkau. Jalanan relatif lebar dan rata sehingga mobil pun akan dengan mudah melewatinya. Meskipun terletak cukup jauh, tempat wisata ini sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung yang memadai, termasuk tempat parkir yang luas. Dari tempat parkir kita masih harus berjalan mendaki jalan setapak dengan beberapa anak tangga yang diapit pepohonan rindang. Hutan di kaki Gunung Kelir ini masih alami dan terjaga. YogYES bahkan sempat melihat beberapa ekor tupai yang bermain-main dengan asyiknya di atas pohon.

Terdapat 4 buah kolam di pemandian, kolam tempat sumber air panas, 2 kolam renang dewasa, dan kolam renang anak-anak. Ada larangan untuk masuk ataupun menyentuh air di kolam utama karena suhunya cukup panas. Air panas ini disalurkan ke dalam 3 kolam lainnya dan dicampur dengan air dingin agar suhunya sesuai dengan suhu tubuh manusia. Yang menarik, tidak tercium bau belerang sama sekali!

Bau belerang menyengat yang sering muncul di hot spring adalah bau Hidrogen Sulfida yang dihasilkan oleh bakteri anaerob ketika air dipanaskan secara alami di dalam perut bumi. Zat ini kemudian terbawa ke atas permukaan tanah, kecuali dalam beberapa kasus ketika kadar Hidrogen Sulfida yang terbentuk tidak cukup banyak atau ketika zat ini teroksidasi oleh Oxygen sebelum sampai ke permukaan. Pemandian Banyu Anget ini salah satu contohnya. Tidak adanya bau belerang ini tentu saja akan membuat Anda semakin nyaman dalam berendam menikmati hangatnya air yang menenangkan dan bisa melancarkan peredaran darah ini. Benar-benar pas untuk mengakhiri hari setelah sehari penuh surfing atau menyusuri pantai-pantai dan gua di Pacitan. tempat ke5 yg kami kunjungi, luar biasa enak dan nyaman…. he hehe kepan ke PACITAN lagi????

pemandian air panas parang wedang Jogja

pemandian air panas parang wedang Jogja

Pemandian air panas dengan sumber air panas alami dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit, sangatlah tepat kiranya anda mengunjungi satu tempat di sekitaran pantai parangtritis namanya parang wedang. Parang Wedang terletak sebelum anda memasuki kawasan wisata parangtritis hanya beberapa meter saja atau, sekitar 30 km dari kota yogyakarta.

Air panas disini berbeda dengan air panas alami lainnya yang biasanya mengandung belerang, namun di parang wedang ini hanya mengandung Na, CL, dan MG dan berbagai zat mineral. Sumber air dari pemandian parangwedang berasal dari perbukitan di utara pantai parangtritis. Hal ini di tempat ini merupakan pertemuan dua lempeng yang mengakibatkan timbulnya air panas dengan konsentrasi kimia yang tinggi karena air yang mengalir dari perbukitan tersebut mendapat panas panas bumi.

Namun menurut cerita leluhur, keberadaan Pemandian parang wedang tidak terlepas dari sejarah keraton Kasultanan Yogyakarta yakni berkat kesaktian yang dimiliki oleh sultan Hamengku Buwono VI. Saat itu Sultan HB VI sedang dalam perjalanan menuju pesanggrahan Balekencur. Semula Sultan Hamengku Buwono VI bermaksud mandi di pesanggrahan tersebut namun air yang ada semuanya dingin, maka beliau berusaha mencari air panas. Setelah beberapa waktu tidak menemukan sumber air panas sesampainya di desa mancingan maka dibuatlah lubang, berkat kesaktiannya lubang tersebut di rubah menjadi sumber air yang sangat deras dan berair panas. Dan dinamakan parang wedang yang berarti karang yang mengeluarkan air panas karena Parang dalam bahasa jawa berarti karang sedang wedang berarti air panas. Mulai saat itu kemudian tempat tersebut sebagai pemandian keluarga keraton. Namun karena sudah jarang digunakan maka kemuadian dibuka untuk umum, mata air panas tersebut hingga saat ini tidak pernah berhenti. Khasiat air mandi hangat ditempat ini ternyata sungguh luar biasa dari penyakit kulit, stroke dan reumatik. Ataupun hanya sekedar lelah atau pegal pegal niscaya pasti akan sembuh. Untuk penyakit kulit harus mandi / berendam di pemandian ini setiap hari selama 1 minggu sedangkan penyakit stroke dan reumatik harus berendam setiap hari selama satu bulan.

Pemandian Parangwedang dibuka mulai pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB, namun jika pengunjung banyak maka akan ditutup pada pukul 15.00 WIB, ini dikarenakan untuk menjaga kehangatan air panasnya karena mata airnya sangat terbatas yaitu hanya 3 mata ir yang kedlamannya mencapai 10 meter. Untuk menikmati hangatnya pemandian air panas ini anda haru membayar tiket masuk retribusi masuk pantai Parangtritis dan memasuki kolam pemandian. Tiket ke pantai Parangtritis sebesar Rp. 3.000 per orang ditambah jika memakai kendaraan roda 2 ditambah 1.000,- dan mobil Rp. 2.000,00 sedangkan masuk ke kolam pemandian sebesar Rp. 4.000,-. Sedangkan untuk parkir anda yang menggunakan sepeda motor dikenai tarif parkir sebesar Rp. 2.000,- dan mobil Rp. 5.000,-. Selamat menikmati mandi air hangat yang menyehatkan.

tempat pemandinag air panas ke-4 yg kami kunjungi. tapi merindinggggg..seremmmm..huahahahaha…. lebih terbuka lebih baik.